Senin, 19 Maret 2012

makalah fiqih praktek ( mengurus jenazah)


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kewajiban pengurusan jenazah bagi orang yang masih hidup ialah memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan menguburkannya. Kewajiban-kewajiban ini termasuk fardhu kifayah, yaitu kewajiban yang dibebankan kepada umat islam yang  jika telah dilaksanakan oleh sebagian dari mereka maka kewajiban tersebut telah dianggap mencukupi. Yang berhak memandikan jenazah jika laki-laki maka yang memandikannya harus orang laki-laki kecuali istri dan mahramnya, demikian juga jika jenazah itu perempuan maka yang memandikan harus perempuan kecuali suami atau mahramnya. Mengkafani ialah membungkus jenazah dengan kain. Kafan sekurang-kurangnya selapis kain yang menutupi seluruh badan mayat, baik mayat laki-laki maupun perempuan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana cara memandikan jenazah?
2.      Siapa saja yang berhak memandikan jenazah?
3.      Bagaimana cara mengafani jenazah?

C.    Tujuan
a.       Untuk mengetahui kewajiban mengurus jenazah bagi orang yang masih hidup
b.      Untuk mengetahui cara memandikan jenazah
c.       Untuk mengetahui siapa saja yang berhak memandikan jenazah
d.      Untuk mengetahui cara mengafani jenazah laki-laki dan perempuan



BAB II
PEMBAHASAN


            Sebelum memandikan jenazah, segala sesuatu yang akan diperlukan dalam proses memandikan jenazah perlu dipersiapkan terlebih dahulu.
2.1       Berikut hal hal yang harus dipersiapkan sebelum memandikan  jenazah :
1.      Tempat memandikan
2.      Ember, gayung, dan Air
3.      Kapas
4.      Kapur barus atau kamfer,
5.      Daun Bidara/ Sidr
6.      Kaos tangan karet 7-8 buah dan sarung tangan kain sesuai dengan jumlah   petugas yang memandikan.
7.      Kain penutup mayat 5-6
8.      Handuk dan waslap
9.      Bila dibutuhkan sebagai tambahan: Sabun (lebih baik cair), Shampoo, Cutton buds.
10.     Gunting
11.     Minyak wangi.
12.     Tempat sampah untuk membuang kotoran atau sampah.
13.     Kafan menyesuaikan keadaan dan  jenis kelamin jenazah.
Sebelum memandikan jenazah ada baiknya kita memenuhi aturan sebelum memandikan jenazah yaitu:
  • Mengikat kepala mayit
  • Melatakkan kedua tangan di atas perut (seperti orang yan sedang melakukan salat)
  • Mengikat dan menyatukan persendian lutut
  • Menyatukan kedua ibu jari kaki
  • Menghadapkan mayit kearah kiblat
2.2       Tata cara memandikan Jenazah :
Ketika memandikan mayat, tidak boleh hadir kecuali orang yang diperlukan kehadirannya. Dan hendaklah yang memandi­kan itu adalah orang yang jujur, salih dan dapat dipercaya, agar ia tidak menyiarkan keaiban dari mayat tersebut.[1]
Rasulullah saw. bersabda yang diriwayat­kan oleh Ibnu Majah berikut:
ليغسل موتا كم المأ مونون
"Hendaklah yang akan memandikan jenazahmu itu orang-orang yang dapat dipercaya".

Berikut langkah – langkah memandikan jenazah:
1.      Pada mulanya kita sediakan air sebanyak mungkin, air kapur barus, dan sabun, kain. Kemudian lakukan bacaan niat, ketentuan bacaan niat :
  • Jika mayat laki-laki dewasa,lafadz niatnya adalah :
    (Nawaitul ghusla lihaadzal mayyit fardhal kifaayati lillahita’ala).
    Artinya : Sengaja aku memandikan mayat ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.
  • Jika mayat perempuan dewaasa,lafadz niatnya adalah:
    (Nawaitul ghusla lihaadzihil mayyitati fardhal kifaayati lillahita’ala)
    Artinya : Sengaja aku memandikan mayat perempuan dewasa ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.
  • Jika mayat kanak-kanak laki-laki, lafadz niatnya adalah :
    (Nawaitul ghusla lihaadzal mayyit tifli fardhal kifaayati lillahita’ala).
    Artinya : Sengaja aku memandikan mayat kanak-kanak laki-laki ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.
  • Jika mayat kanak-kanak perempuan,lafadz niatnya adalah :
    (Nawaitul ghusla lihaadzihil mayyitati tiflati fardhal kifaayati lillahita’ala).
    Artinya : Sengaja aku memandikan mayat kanak -kanak perempuan ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.
2.      Kemudian ambil air kemudian sirami seluruh bagian persendian tubuh mayit, agar tidak kaku dan mudah membersihkan semua bagian tubuh mayit. Kemudian sabuni dan bersihkan semua anggota bagian tubuh. Lebih utama meletakkan mayat di tempat yang tinggi, pakaiannya ditanggalkan dan ditaruh di atasnya sesuatu yang dapat menutupi auratnya. Untuk sunnah-nya dahulukan anggota bagian kanan baru kemudian kiri. Ketika memandikan mayat, tidak boleh hadir kecuali orang yang diperlukan kehadirannya.
3.      Setelah itu dudukkan mayit dan tekan-tekan perut, agar kotoran dalam perut keluar. Setelah itu bersihkan dubur mayit dengan niat istinja’ bagi mayit. Dengan bacaan niat :
Nawaitul istinjaa-i minal mayyit fardhan a’layya lillahi ta’ala).
Artinya : Sengaja aku menyucikan daripada mayit ini fardhu atasku karena Allah Ta’ala.
Dan ketika hendak membersih­kan "auratnya", hendaklah tangan orang yang memandikan dilapisi dengan kain, karena menyentuh aurat itu hukumnya haram.
4.      Kemudian diambil wudlu bagi simayit, dengan bacaan niat :
(Nawaitul wudhu-a lihaadzal mayyit lillahi Ta’ala).
Artinya : Sengaja aku mengambil wudhu’ bagi mayit ini karena Allah.
Hendaklah mayat itu diwudlukan seperti wudlu sembahyang yakni diawali atau dimulai dari agian kanan, berdasarkan hadits Rasulullah saw.
ابدأ بميا منها وهواضع اُلوضنوءِ منها
"Mulailah dengan bagian yang kanan dari anggota wudlu".
Dan siram dengan air kapur barus untuk menghilangkan segala bau yang mengganggu.
5.      Setelah itu hendaklah dimandikan tiga kali dengan air sabun atau dengan air bidara, dengan memulainya bagian yang kanan. Dan seandainya tiga kali tidak cukup, misalnya belum bersih maka hendaklah dilebihinya menjadi lima atau tujuh kali. Rasulullah saw. bersabda :
اغسلنهاوتراًّ :ثلاثاً او خمسًا او سبعا : اواكثر من ذلك ان رايتنّ
"Mandikanlah jenazah-jenazah itu secara (hitungan) ganjil, tiga, lima atau tujuh kali. Atau boleh lebih jika kau pandang perlu".


6.      JIka telah selesai memandikan mayat, hendaklah tubuhnya dikeringkan dengan kain atau handuk yang bersih, agar kain kafannya tidak basah, lalu ditaruh, diatas minyak wangi.
Tetapi kalau mayat itu meninggal ketika sedang dalam keadaan ihram, maka harus dimandikan seperti biasa tanpa dikenai kafur atau lainnya yang berbau harum.
Menurut riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas ra.
انّ رجلا وقصه بعيره, ونحن مع النّبى صلى الله عليه وسلّم وهو محرم, فقال النبي صلى الله عليه وسلم : اغسلوه بماء وسدرٍ وكفنوه فى ثوبين, ولا تمسوه طيبًا ولاتخمروا رأسه فأنّ الله يبعثه يوم القيامة ملبدا, و فى رواية ملبيا.
"Bahwa seorang laki-laki terinjak oleh untanya, ketika kami menyertai Nabi saw. sedang ia dalam keadaan ihram. Maka beliau saw. bersabda : "Mandikan dia dengan air bidara, dan bungkuslah dengan dua lembar kain, dan janganlah dia dikenai dengan wewangian, dan jangan pula ditutupi kepala­nya. Karena, sesungguhnya Allah akan membangkitkan dia pada hari kiamat dalam keadaan rekat rambutnya. Sedang menurut riwayat lain : "dalam keadaan talbiyah".

Dan ketentuan lain sehubungan dengan memandikan mayat, ialah mayat laki-laki wajib dimandikan oleh laki-laki, dan mayat perempuan dimandikan dengan mayat perem­puan pula, sebagaimana yang bisa disimpul­kan dari beberapa hadits. Hanya saja bagi mayat laki-laki boleh dimandikan oleh isteri­nya dan mayat perempuan oleh suaminya.
Kalau untuk memandikan mayat perem­puan hanya ada seorang laki-laki yang bukan mahramnya, atau untuk memandikan mayat laki-laki hanya seorang perempuan yang bukan mahramnya, maka gugurlah kewajiban memandikan mayat itu, diganti dengan tayam­mum.' Demikian menurut Musthafa Al Khin.
Hal ini didasarkan pada riwavat Baihaki dari Makhul dan juga Abu Dawud.
Rasulullah saw. bersabda :
اِذا ماتت ألمرأة مع الرجال, ليس معهم امرأة غيرها والرجول مع النساء, ليس معهنّ رجل غيره فإنهماييممان ويد فنان, وهمابمنزله من لم يجدالماء
"Jika seorang wanita _meninggal di lingkungan Iaki-laki hingga tak ada wanita lain, atau laki-laki di lingkungan wanita wanita dimana tidak ada laki-laki lain, maka hendaklah mayat-mayat itu ditayamumkan lalu dimakamkan. Kedua Mereka itu sama halnya dengan orang yang tidak mendapatkan air”.
Menurut Imam Malik dan Syafi`i, jika diantara laki-laki itu terdapat seorang mahram yang haram kawin dengannya, hendaklah ia di mandikan mayat wanita itu, karna ia ini  adalah seperti laki-laki bagi mahram tersebut, mengenai soal aurat dan khalwat."

2.3                 Cara Memotong Kain Kafan
Yang perlu diperhatikan adalah sebelum mengkafani mayit sebaiknya mayit dipakaikan celana dalam terlebih dahulu baru kemudian dikafani, berikut tata cara mengkafani jenazah laki - laki :
  1. Siapkan kain kafan
  2. Potong sesuai ukuran kain kafan, yaitu : kurang lebih 15.5 meter dengan aturan potongan kain :
a)              Kafan 2 lapis dengan panjang @ 2,5 m X lebar kain + 0,5 m lebar potong kain. Total 7,5 meter
b)             Baju dengan panjang 2,5 meter, diambil 2/3 dari lebar. Sisanya 1/3 untuk sorban. Total 2,5 meter
c)              1,5 meter untuk lengan baju, 2/3 dari lebar untuk baju. Sisanya 1/3 untuk anak baju. Total 1,5 meter
d)             1 meter untuk sal atau selendang. Total 1 meter
e)              1,5 meter untuk ikat pinggang (1/3 dari lebar). Total 1,5 meter
Baru kemdian kita melakukan pengkafanan

2.4        Mengafani Mayat
Hukum mengafani (membungkus) mayat itu adalah fardu ki fayah atas yang yang hidup. Kafan diambil dari harta si mayat sendiri jika ia meninggalkan harta. Kalau ia tidak meninggalkan harta, maka kafannya menjadi kewajiban orang yang wajib memberi belanjanya ketika ia hidup. kalau yang wajib memberi belanja itu juga tidak mampu, hendaklah di ambilkan dari baitul-mal, dan diatur menurut hukum agama Islam. jika baitul-mal tidak ada atau tidak teratur, maka hal itu menjadi kewajiban muslim yang mampu. Demikian pula keperluan lainnya yang bersangkutan dengan mayat.
Kafan sekurang-kurangnya selapis kain yang menutupi seluruh badan mayat, baik mayat laki-laki maupun perempuan. Sebaiknya untuk laki-laki tiga lapis kain; tiap-tiap lapis menutupi seluruh badannya. Sebagian ulama berpendapat bahwa salah satu dari tiga lapis itu hendaldah izar (kain mandi), sedangkan dua lapis lagi menutupi seluruh badannya.

Cara Mengafani
1.        Mula-mula kita siapkan segala sesuatunya yang diper-lukan untuk mengkafani mayat (kain kafan dan lain-lain).
2.        Kemudian sobek / koyak bagian tepi kain kafan tersebut, setelah itu potong kain kafan tersebut (sesuaikan dengan ukuran pemotongan kain kafan sebagaimana telah disebut pada huruf B dari aturan pemotongan kain kafan). Hal tersebut hendaklah disesuaikan dengan kondisi badan/fisik mayat.
3.        Seterusnya buatlah bajunya, kain sarungnya, cawatnya serta sorban bagi mayat laki-laki atau kerudung bagi mayat perempuan. Disunnatkan pada pertama kali menyobek kain tersebut dengan membaca :
Allahummaj’al libaasahu (ha) ‘anil kariim wa adkhilhu (ha) Ya Allahu ta’ala birahmatikal Jannata yaa arhamarraahimiin.
4.        Adapun cara meletakkan kain kafan itu ialah dibujurkan ke arah kiblat (letak kaki mayat ke arah qiblat) jika tempat mengizinkan. Susunannya adalah sebagai berikut :
a. Letakkan tali kain kafan sebanyak 5 helai
b. Kain kafan pertama dibentangkan
c. Ikat pinggang mayat dibentangkan
d. Kain kafan kedua dibentangkan
e. Selendang / sal dipasang
f. Sorban dibentangkan di atas sal / selendang
g. Baju dibentangkan
h. Anak baju dibentangkan di atas baju
i. Kain sarung dibentangkan di atas baju
j. Kapas ditebarkan di atas baju dan kain sarung
k. Selasih serbuk cendana dan wewangian ditabur di atas kapas
Hendaknyalah mendahulukan kain yang kanan dari pada kain yang kiri
Kemudian dihamparkan sehelai-sehelai, dan di atas tiap-tiap lapis itu ditaburkan wangi-wangian, seperti kapur barus dan sebagainya; lalu mayat diletakkan di atasnya. Kedua tangannya diletakkan di atas dadanya, tangan kanan di atas tangan kiri; atau kedua tangan itu diluruskan menurut lambung­nya (rusuknya).[2]
عن عائشة كفن رسول الله صلى الله عليه وسلم فى ثلاثة اثواب بيضسحوليةمن كرسف ليس فيهاقميص ولاعمامة. متفق عليه
Diriwayatkan:
Dari Aisyah, "Rasulullah Saw. dikafani dengan tiga lapis kain putih bersih yang terbuat dari kapas (katun), tanpa memakai gamis dan serban." (Sepakat ahli hadis)
Mayat perempuan sebaiknya dikafani dengan lima lembar kain, yaitu basahan (kain bawah), baju, tutup kepala, kerudung (cadar), dan kain yang menutupi seluruh badannya.
Cara mengafani Mayat Perempuan
Mula-mula dipakaikan kain basahan, baju, tutup kepala, lalu kerudung, kemudian dimasukkan ke dalam kain yang meliputi seluruh badannya. Di antara beberapa lapisan kain tadi sebaiknya diberi wangi-wangian, misalnya kapur barus.
عن ليلى بنت قانف قالت كنت فيمن فيمن غسل ام كلثوم بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم عند وفاتهاوكان اول مااعطانارسول الله صلى الله عليه وسلم الحقاء ثم الدرع ثم الخمارثم الملحفق ثم ادرحت بعدذلك فى الشوب الاخر. قالت ورسول الله صلى الله عليه وسلم عند الباب ومعه كفنهايناولناثوباثوبا. رواه أحمدوأبوداود
Dari Laila binti Qanif. Ia berkata, "Saya salah seorang yang turut memandikan Ummi Kalsum binti Rasulullah Saw. ketika ia wafat. Yang pertama-tama diberikan oleh Rasulullah Saw. kepada kami ialah kain basahan, kemudian baju, tutup kepala, lalu kerudung, dan sesudah itu dimasukkan ke dalam kain yang lain (yang menutupi seluruh badannya)."Kata Laila, "Sedangkan Nabi berdiri di tengah pintu membawa kafannya, dan memberikannya kepada kami sehelai demi sehelai." (Riwayat Ahmad dan Abu Dawud)
Kecuali orang yang mati ketika sedang dalam ihram haji atau umrah, ia tidak boleh diberi harum-haruman dan jangan pula ditutup kepalanya. Sabda Rasulullah Saw.:
عن ابن عباس قال بينمارحل واقف مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بعرفة اذوقع عن راحلته فوقصته فذ كر ذلك للنبى صلى الله عليه وسلم فقال اغسلوه بماء وسدر وكفنوه فى ثوبيه ولاتحنطوه ولاتخمروا رأسه فان الله يبعثه يوم القيامة ملبيا. رواه الجماعة
Dari Ibnu Abbas. Ia berkata, "Ketika seorang laki-laki sedang wukuf atau mengerjakan haji bersama-sama Rasulullah Saw. di Padang Arafah, tiba-tiba laki-laki itu terjatuh dari kendaraannya hingga meninggal. Maka kejadian itu diceritakan kepada Nabi Saw: Beliau berkata, `Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, dan kafanilah dia dengan dua kain ihramnya. Jangan kamu beri dia wangi-wangian, dan jangan ditutup kepalanya. Maka sesungguhnya Allah akan membangkitkan dia nanti pada hari kiamat seperti keadaannya sewaktu berihram':" (Riwayat Jama'ah ahli hadis)
Kafan itu sebaiknya adalah kain putih bersih. Sabda Rasulullah Saw.:
البسوامن ثيابكم البياض فانهاخيررثيابكم وكفنوافيهاموتاكم. رواه الترمذىوغيره
"Pakailah olehmu kain putihmu; karena sesungguhnya kain putih itu sebaik-baik kainmu; dan kafanilah mayatmu dengan kain putih itu." (Riwayat Tirmizi dan lain-lain)

2.5       Menyempurnakan Pemakaian Kain Kafan
Sabda Rasulullah Saw.:
عن جابرقال رسول الله صلى الله عليه وسلم اذاكفن احدكم اخاه فليحسن كفنه. )رواه مسلم(
Dari Jabir, "Rasulullah Saw. berkata, Apabila salah seorang dari kamu menga fani saudaranya, hendaklah ka fannya dibaikkan." (Riwayat Muslim)
Kafan yang baik maksudnya baik sifatnya, baik cara memakainya, serta terbuat dari bahan yang baik. Sifat-sifatnya telah diterangkan, yaitu kain yang putih, begitu pula cara memakaikannya yang baik. Adapun baik yang tersangkut dengan dasar kain ialah, jangan sampai berlebih-lebihan memilih dasar kain yang mahal-mahal harganya.
Sabda Rasulullah Saw.:[3]
عن على بن ابى طالب قال رسول الله صلى الهه عليه وسلم: لاتغالوافى الكفن فانه يسلب سريعا. رواه أبوداود
Dari Ali bin Abi Talib. Rasulullah Saw. berkata, "Janganlah kamu berlebih-lebihan (memilih kain yang mahal-mahal) untuk kafan karena. sesungguhnya ka fan itu akan hancur dengan segera." (Riwayat Abu Dawud)
Agar Sahabat:
عن عائثة ان ابابكر نظر الى ثوب عليه كان يسرض فيه فقال اغسلوا ثوبى ثذاوزيدوا عليه ثوبين فكفنو نى فيهاقلب ان هذا خلق قال ان الحى احق بالجديدمن الميت انما هوللمهلة. مختصرمن البخارى
Dari Aisyah. Abu Bakar (khalifah pertama) memandang kain yang beliau pakai sewaktu beliau sakit. Kata beliau, "Cuci olehmu kainku ini, dan tambahilah dua kain lagi, lalu kafanilah aku dengan kain itu,"JawabAisyah, "Kain ini sudah usang." Ujar beliau, "Sesungguh­nya orang yang hidup lebih berhak memakai yang baru dari pada mayat. Kafan itu hanya untuk tanah, daging, dan kulit yang hancur.”(Ringksan dari bukhori)





















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Memandikan  dan  mengkafani  jenazah adalah  kawajiban bagi orang yang masih hidup, kewajiban ini termasuk  fardhu  kifayah. Yang wajib dalam memandikan itu ialah menyampaikan atau menyiramkan air keseluruh tubuhnya. Lebih utama meletakkan mayat di tempat yang tinggi, pakaiannya ditanggalkan dan ditaruh di atasnya sesuatu yang dapat menutupi auratnya. mayat laki-laki wajib dimandikan oleh laki-laki, dan mayat perempuan dimandikan dengan mayat perem­puan pula, sebagaimana yang bisa disimpul­kan dari beberapa hadits. Hanya saja bagi mayat laki-laki boleh dimandikan oleh isteri­nya dan mayat perempuan oleh suaminya. Kafan sekurang-kurangnya selapis kain yang menutupi seluruh badan mayat, baik mayat laki-laki maupun perempuan. Sebaiknya untuk laki-laki tiga lapis kain; tiap-tiap lapis menutupi seluruh badannya.


























 DAFTAR PUSTAKA

Rasjid, sulaiman. 2010. Fiqih Islam. Bandung: sinnar baru algensindo
Mujtaba’, saifuddin. 2003. Sucikan Tubuh Anda. Jember: H.I Press
Sabiq, sayyid. 1993. Fiqih Sunnah 4. Bandung: PT. Al Ma’rif
Hassan. 1996. Soal-Jawab ( tentang berbagai masalah agama ). Bandung: CV. Diponogoro
Muttaqin, zainal. 2004. Fiqih Madrasah Tsanawiyah. Semarang: PT. Toha Putra



















1 komentar:

  1. TINIAN MUFFLER, COOKIE-LOOKIE AT TINIAN MUFFLER, COOKIE-LOOKIE AT TINIAN MUFFLER
    TINIAN MUFFLER, COOKIE-LOOKIE titanium 4000 AT snow peak titanium TINIAN MUFFLER, COOKIE-LOOKIE mens titanium braclets AT TINIAN titanium daith jewelry MUFFLER, TINIAN MUFFLER, TINIAN MUFFLER, TINIAN MUFFLER. sunscreen with titanium dioxide

    BalasHapus